Bismillahirrahmanirrahim Konten Dakwah; Mengajak pada kebaikan; Menyebarkan pesan dan hadist nabi Muhammad SAW.; Channel pembelajaran dakwah Islam;
Saturday, 18 July 2020
Jangan Menjelek-jelekkan Makanan
Janganlah menjelek-jelekkan makanan, kalau tidak suka yah tinggalkan saja. Tak perlu beri komentar tanda seola-olah menolak rizki Allah.
Imam Nawawi membawakan dalam kitab Riyadhus Sholihin mengenai tidak bolehnya mencela makanan dan disunnahkan memujinya. Beliau bawakan dua hadits dari Abu Hurairah dan Jabir berikut ini.
*Tidak Menjelek-jelekkan Makanan*
Dari Abu Hurairah, ia berkata,
مَا عَابَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – طَعَامًا قَطُّ ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ
“Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela suatu makanan sedikit pun. Seandainya beliau menyukainya, beliau menyantapnya. Jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya (tidak memakannya).” _(Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064)_
Lihatlah Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ memberikan cara bagaimana menghadapi makanan yang tidak kita sukai, yaitu dengan ditinggalkan. _(Bahjatun Nazhirin, 2: 51)_
Ibnu Baththol _rahimahullah_ mengatakan, “Inilah adab yang baik kepada Allah Ta’ala. Karena jika seseorang menjelek-jelekkan makanan yang tidak disukai, maka seolah-olah dengan ucapan jeleknya itu, ia telah menolak rizki Allah.” _(Syarh Al Bukhari, 18: 93)_
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin _rahimahullah_ menjelaskan, “Makanan dan minuman yang dinikmati ketika disodori pada kita, hendaklah kita tahu bahwa itu adalah nikmat yang Allah beri. Nikmat tersebut bisa datang karena kemudahan dari Allah. Kita mesti mensyukurinya dan tidak boleh menjelek-jelekkannya. Jika memang kita suka, makanlah. Jika tidak, maka tidak perlu makan dan jangan berkata yang bernada menjelek-jelekkan makanan tersebut.” _(Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 199)_
Namun tidak mengapa jika memberi kritikan pada yang masak, misalnya dengan berkata, “Hari ini masakanmu terlalu banyak garam, terlalu pedas atau semacam itu.” Yang disebutkan ini bukan maksud menjelakkan makanan, namun hanyalah masukan biar dapat diperbaiki. (Lihat _idem, 4: 200_)
*Hendaklah Memuji Makanan*
Adapun dalam masalah memuji makanan dapat terbukti dari hadits Jabir bin ‘Abdillah berikut ini.
Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata bahwa Nabi _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ pernah bertanya kepada keluarganya tentang lauk. Mereka lantas menjawab bahwa tidak di sisi mereka selain cuka. Nabi _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ lalu bersabda,
نِعْمَ الأُدُمُ الْخَلُّ نِعْمَ الأُدُمُ الْخَلُّ
“Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka.” _(HR. Muslim no. 2052)_
Perhatikan, ketika Nabi _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ meminta lauk, yang ada hanyalah cuka. Maka beliau pun tetap menyantapnya, bahkan memujinya. Inilah yang dimaksud memuji makanan.
Jadi, di antara petunjuk Rasul _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ adalah jika beliau dapati makanan yang disenangi, maka dipuji. Begitu pula hadits Jabir mengajarkan untuk bersederhana dalam makan. Kita juga bisa mengambil pelajaran bahwa tidak semua yang disenangi jiwa mesti dituruti, kadangkala keinginan semacam itu ditahan seperti diajarkan oleh Rasul _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ di sini. _(Lihat Bahjatun Nazhirin, 2: 51)_
_Hanya Allah yang memberi taufik._
🖊 *Muhammad Abduh Tuasikal, MSc* _hafidzahullah_
📖 Sumber: rumaysho.com
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment